HISTORISITAS POLIGAMI DI NUSANTARA: TRANSFORMASI DARI PRAKTIK KEKUASAAN MENUJU REGULASI HUKUM PERKAWINAN

Authors

  • Raihan Qodrian, S.H. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Nailul Husna, Lc. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.46773/vk6xmc87

Abstract

This article examines the historicity of polygamy in Nusantara, treating historicity not as chronology but as an analytical concept in which a legal norm is read as the sediment of successive normative orders. It asks how polygamy was practised and legitimated across four periods, namely the Hindu-Buddhist order, the coming of Islam, Netherlands Indies rule, and independence, and how those shifts produced the polygamy provisions of Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. This is normative legal research using historical-legal, statutory, and conceptual approaches, framed by legal pluralism as its single analytical lens and operationalised through four dimensions: the source of legitimacy, the normative status of polygamy, the regulating authority, and the mechanism of control. Materials were gathered through a literature study of classical manuscripts, legal instruments, and legal-historical scholarship, then analysed descriptively and analytically. The findings show a movement from polygamy as an instrument of dynastic power, to a religiously conditioned permission bound by justice, to an object of colonial legal-political contestation, and finally to a practice institutionalised and judicialised by the state. Open monogamy in national marriage law is therefore best read as the outcome of this layered process rather than a sudden legislative choice.

References

Adam, M., Bulkis, B., Hasnawati, H., & Riswan, R. (2026). Poligami dalam cengkeraman regulasi: Dekonstruksi relasi fiqh dan hukum negara. Dahzain Nur, 16(1), 11–23. https://doi.org/10.69834/dn.v16i1.419

Adiprasetio, J. (2015). Sejarah poligami: Analisis wacana Foucauldian atas poligami di Jawa. Penerbit Ombak.

Azizah, E. S., Sari, S. N., & Haryanti, N. (2025). Sejarah masuknya Islam ke Nusantara dan proses islamisasi di Nusantara. Dinamika Pembelajaran: Jurnal Pendidikan dan Bahasa, 2(3), 322–339. https://doi.org/10.62383/dilan.v2i3.1975

Azwar, W. (2022). Latar belakang lahirnya Undang-Undang Perkawinan Indonesia Nomor 1 Tahun 1974. Hukum Islam, 21(1), 133–151.

Blackburn, S. (Ed.). (2007). Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan ulang. Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta.

Carey, P., & Houben, V. (2024). Perempuan-perempuan perkasa di Jawa abad XVIII–XIX (Cet. 5). Kepustakaan Populer Gramedia.

Faizal D., M. (2022). Kritik feminist legal theory terhadap regulasi poligami berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 [Tesis, Universitas Gadjah Mada]. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/217761

Griffiths, J. (1986). What is legal pluralism? The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 18(24), 1–55. https://doi.org/10.1080/07329113.1986.10756387

Gunaryo, A. (2006). Pergumulan politik & hukum Islam: Reposisi peradilan agama dari peradilan “pupuk bawang” menuju peradilan yang sesungguhnya (Cet. 1). Pustaka Pelajar & Pascasarjana IAIN Walisongo.

Halim, A. (2008). Politik hukum Islam di Indonesia: Kajian posisi hukum Islam dalam politik hukum pemerintahan Orde Baru dan era reformasi. Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI.

Hasbullah, M. (2017). Islam & transformasi masyarakat Nusantara. Prenada Media.

Hooker, M. B. (1975). Legal pluralism: An introduction to colonial and neo-colonial laws. Clarendon Press.

Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Karimullah, S. S. (2021). Pembaruan Islam bidang keluarga dan relevansinya dengan peraturan poligami di Indonesia. El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law, 2(2), 61–81. https://doi.org/10.24042/el-izdiwaj.v2i2.10862

Kuntowijoyo. (2013). Pengantar ilmu sejarah. Tiara Wacana.

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Ed. rev.). Kencana Prenada Media Group.

Merry, S. E. (1988). Legal pluralism. Law & Society Review, 22(5), 869–896. https://doi.org/10.2307/3053638

Moore, S. F. (1973). Law and social change: The semi-autonomous social field as an appropriate subject of study. Law & Society Review, 7(4), 719–746. https://doi.org/10.2307/3052967

Mulia, S. M. (2007). Islam menggugat poligami. Gramedia Pustaka Utama.

Muljana, S. (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LKiS.

Muljana, S. (2006). Tafsir sejarah Nagara Kretagama. LKiS.

Nasution, K. (1996). Riba dan poligami: Sebuah studi atas pemikiran Muhammad Abduh. Pustaka Pelajar.

Nasution, K. (2007). Metode pembaruan hukum keluarga Islam kontemporer. Unisia, 30(66), 329–341. http://jurnal.uii.ac.id/index.php/Unisia/article/view/2677/2456

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil.

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil.

Putri, R. H. (2026, 15 Agustus). Aliansi politik dengan poligami. Historia. https://www.historia.id/article/aliansi-politik-dengan-poligami-6m7on

Raffles, T. S. (1817). The history of Java (Vol. 2). Black, Parbury and Allen.

Regeling op de Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir al-Mishbah: Pesan, kesan, dan keserasian al-Qur’an (Vol. 2). Lentera Hati.

Sidik, S., & Athoillah, M. (2026). Konstruksi epistemologi keadilan poligami dalam Tafsir Al-Mīzān: Analisis kritis QS. an-Nisā’ [4]: 3 dan implikasinya terhadap wacana hukum keluarga kontemporer. Al Maqashidi: Jurnal Hukum Islam Nusantara, 9(1), 66–79. https://doi.org/10.32665/almaqashidi.v9i1.5910

Sosroatmodjo, A., & Aulawi, A. W. (1978). Hukum perkawinan di Indonesia. Bulan Bintang.

Staatsblad van Nederlandsch-Indië Tahun 1929 Nomor 348.

Subadio, M. U. (1981). Perjuangan untuk mencapai Undang-Undang Perkawinan. Yayasan Idayu.

Tamanaha, B. Z. (2008). Understanding legal pluralism: Past to present, local to global. Sydney Law Review, 30(3), 375–411.

Trigiyatno, A. (2012). Perempuan dan poligami di Indonesia (Memotret sejarah gerakan perempuan dalam menentang poligami). Muwazah, 3(1). https://doi.org/10.28918/muwazah.v3i1.8

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Usman, R. (2006). Aspek-aspek hukum perorangan & kekeluargaan di Indonesia. Sinar Grafika.

Downloads

Published

2026-10-06