PENINGKATAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MELALUI USAHA BATIK TULIS; PEMBERDAYAAN PEREMPUAN OLEH PESANTREN KANZUN NAJAH KOTA BATU
DOI:
https://doi.org/10.46773/g8rjr879Keywords:
Economic Welfare, Empowering Women, Hand-Written Batik, PesantrenAbstract
Islamic boarding school-based women's empowerment through hand-drawn batik businesses is a strategic effort to improve the economic welfare of the community. The Pesantren utilizes the potential of hand-drawn batik to promote economic independence and strengthen women's roles. This study aims to analyze the model and role of women's empowerment in improving economic welfare through hand-drawn batik businesses run by the Pesantren Kanzun Najah in Batu City. The research method used descriptive qualitative research with an instrumental case study approach, using primary and secondary data sources. Informants were selected using purposive sampling, with 11 informants, consisting of Islamic boarding school leaders and members, as criteria for empowerment members. The results show that women's empowerment is implemented through a gradual and participatory empowerment model, encompassing three stages: (1) socialization and awareness-raising, (2) hand-drawn batik training, and (3) ongoing mentoring. This model enables women to acquire batik technical skills and increases self-confidence. Empowerment plays a role in improving economic welfare, while strengthening women's independence and role in family economic decision-making. However, empowerment still faces challenges such as limited skills, unstable production, and dependence on mentoring from Islamic boarding school administrators. On the other hand, there are significant opportunities for developing hand-drawn batik businesses through the product's cultural value or regional characteristics, Islamic boarding school support, and sustainable access to promotion.
References
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MELALUI USAHA BATIK TULIS; PEMBERDAYAAN PEREMPUAN OLEH PESANTREN KANZUN NAJAH KOTA BATU
Eko Raharto1
1 Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Abu Zairi Bondowoso; ekoraharto@stisabuzairi.ac.id
Abstract
Keywords:
Economic Welfare, Empowering Women, Hand-Written Batik, Pesantren Islamic boarding school-based women's empowerment through hand-drawn batik businesses is a strategic effort to improve the economic welfare of the community. The Pesantren utilizes the potential of hand-drawn batik to promote economic independence and strengthen women's roles. This study aims to analyze the model and role of women's empowerment in improving economic welfare through hand-drawn batik businesses run by the Pesantren Kanzun Najah in Batu City. The research method used descriptive qualitative research with an instrumental case study approach, using primary and secondary data sources. Informants were selected using purposive sampling, with 11 informants, consisting of Islamic boarding school leaders and members, as criteria for empowerment members. The results show that women's empowerment is implemented through a gradual and participatory empowerment model, encompassing three stages: (1) socialization and awareness-raising, (2) hand-drawn batik training, and (3) ongoing mentoring. This model enables women to acquire batik technical skills and increases self-confidence. Empowerment plays a role in improving economic welfare, while strengthening women's independence and role in family economic decision-making. However, empowerment still faces challenges such as limited skills, unstable production, and dependence on mentoring from Islamic boarding school administrators. On the other hand, there are significant opportunities for developing hand-drawn batik businesses through the product's cultural value or regional characteristics, Islamic boarding school support, and sustainable access to promotion.
Abstrak
Kata kunci:
Kesejahteraan Ekonomi, Pemberdayaan Perempuan, , Batik Tulis, Pesantren Pemberdayaan perempuan berbasis pesantren melalui usaha batik tulis menjadi
upaya strategis dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Pesantren memanfaatkan potensi batik tulis untuk mendorong kemandirian ekonomi dan memperkuat peran perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganlisa model dan peran pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui usaha batik tulis yang dilakukan oleh Pesantren Kanzun Najah Kota Batu. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus instrumental, melalui sumber data primer dan sekunder. Penentuan informan menggunakan teknik purpossive sampling, dengan kriteria sebagai anggota pemberdayaan, yaitu sebanyak 11 informan yang terdiri dari pimpinan pesantren dan anggota pemberdayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dilaksanakan melalui model pemberdayaan yang bertahap dan partisipatif, meliputi 3 (tiga) tahapan, yaitu (1) sosialisasi dan penyadaran, (2) pelatihan batik tulis, dan (3) pendampingan berkelanjutan. Model ini memungkinkan perempuan memiliki keterampilan teknik membatik dan meningkatkan kepercayaan diri. Pemberdayaan berperan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi, sekaligus memperkuat kemandirian dan peran perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga. Meskipun demikian, pemberdayaan masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan keterampilan, belum stabilnya produksi, dan ketergantungan pada pendampingan pengasuh pesantren. Di sisi lain, terdapat peluang besar untuk pengembangan usaha batik tulis melalui nilai budaya produk atau khas daerah, dukungan pesantren, dan akses promosi secara berkelanjutan.
Diajukan : Maret 2026
Diterima : April 20206
Diterbitkan : April 2026
Corresponding Author:
Eko Raharto
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Abu Zairi Bondowoso; ekoraharto@stisabuzairi.ac.id
PENDAHULUAN
Kaum perempuan sering mendapatkan diskriminasi di ruang publik atau masyarakat, sehingga banyak pandangan negatif yang melekat dengan perempuan, seperti tidak berdaya atau lemah, tidak berpendidikan, terbelakang, miskin, dan pandagan negatif lainnya. Kesetaraan gender merupakan permasalahan utama yang kerap terjadi di masyarakat atau ruang publik, yaitu perempuan rentan terhadap pemutusan hubungan kerja, korban tindak kekerasan, dan menanggung beban ekonomi keluarga (Nadia, 2022). Buruh perempuan juga menjadi sasaran utama ketidakadilan dalam dunia usaha, diantaranya menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berdampak pada menurunnya pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga (Ummah, 2019). Melihat kondisi permasalahan utama yang dihadapi kaum perempuan yaitu kemiskinan, sehingga kegiatan pemberdayaan merupakan alternatif terbaik dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ekonominya.
Dalam berbagai studi penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan melalui usaha dapat berkontibusi positif dalam menyelesaikan permasalahan kemiskinan dan ketimpangan gender. Pada penelitian Kabeer (2020) menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan melalui pemberdayaan ekonomi. Selain itu, pemberdayaan perempuan melalui pelatihan keterampilan atau pemberdayaan berkonsep budaya seperti batik, mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan perempuan di lingkungan desa (Kembaren et al., 2024). Adapun bentuk lainnya seperti pemberdayaan perempuan melalui kampung batik untuk meningkatkan perannya di ranah publik, tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu rumah tangga (Fauziah et al., 2023).
Akan tetapi, sebagian besar objek atau sasaran pemberdayaan yang dilakukan oleh pesantren adalah santri, seperti pemberdayaan santri melalui pendampingan budidaya dan penjualan anggrek online (Ifdhal, 2023), Pemberdayaan santriwati melalui pemberian motivasi dan pembekalan keterampilan usaha (Pratiwi et al., 2022). Ada juga objek atau sasaran pemberdayaan UMKM melalui entrepreneurship yang merupakan alumni pesantren, seperti yang dilakukan oleh pesantren Kanzun Najah Kota Batu, dan pemberdayaan tersebut dianggap berhasil dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi (Raharto et al., 2024).
Jika sebagian besar pemberdayaan yang dilakukan oleh pesantren menyasar santri dan alumninya sebagai bekal setelah lulus dari pesantren dan harus hidup bermasyarakat, akan tetapi ada juga pemberdayaan yang menyasar masyarakat umum, antara lain pemberdayaan yang dilakukan oleh pesantren Joglo Alit, yang mana masyarakat diberikan pendampingan usaha, mulai dari pembentukan kelompok usaha peternakan, perikanan, dan kelompok wanita tani sampai dengan pemasarannya (Abu Suhud & Islami, 2020), dan pemberdayaan masyarakat dengen pemberian lapangan kerja dan keterlibatan masyarakat pada usaha pesantren (Zohdi & Baidawi, 2022). Dalam melakukan pemberdayaan perempuan diperlukan beberapa tahapan, antara lain tahapan dari hulu sampai hilir, meliputi tahap persiapan, tahap kelayakan, realisasi bantuan, monitoring, dan intervensi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan (Yulianana, 2020).
Berdasarkan paparan penelitian-penelitian di atas, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui dan menganalisis model, serta peran pemberdayaan perempuan melalui usaha batik tulis yang dilakukan oleh Pesantren Kanzun Najah Kota Batu dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Secara spesifik, penelitian ini dapat mengidentifikasi hal-hal penting, yaitu 1) model pemberdayaan yang diterapkan, 2) mengukur peran atau dampak pemberdayaan dalam meningkatkan pendapatan dan kesejehteraan ekonomi, dan 3) peluang dan tantangan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan tingkat keberhasilan program pemberdayaan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara empiris dan konseptual dalam mengungkap keberhasilan pemberdayaan perempuan melalui batik tulis dalam meningkattkan kesejahteraan ekonomi oleh Pesantren Kanzun Najah Kota Batu.
Selain tujuan penelitian di atas, alasan pentingnya penelitian ini yaitu peran penting dan sentral lembaga pesantren dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan permasalahan sosial lainnya yang ada di masyarakat, khsususnya permasalahan kaum perempuan yang kerap mendapatkan diskriminasi di masyarakat. Selain hal tersebut, penelitian ini dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah dan stakeholders dalam merumuskan sebuah kebijakan pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh lembaga pesantren.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif yaitu untuk menggali informasi, data, dan fakta-fakta secara mendalam dan rinci melalui wawancara kepada informan (Kasiram, 2010). Adapun pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan studi kasus instrumental, penelitian yang mengharuskan peneliti menentukan kasus secara hati-hati dalam upayanya untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam dari kasus tersebut (Rahardjo, 2017). Untuk memperoleh data penelitian, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memperoleh gambaran rinci mengenai bagaimana model dan proses kegiatan pemberdayaan perempuan oleh Pesantren Kanzun Najah Kota Batu melalui batik tulis.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ada 2 (dua), yaitu (1) data primer yang diperoleh dari hasi wawancara 11 informan anggota pemberdayaan, dokumentasi dan observasi penelitian, dan (2) data sekunder diperoleh dari data pendukung berupa jurnal, buku, website, internet dan sumber lainnya. Untuk data informan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Informan Penelitian
NO NAMA KETERANGAN
1 Gus Fathul Yasin Pengasuh Pesantren
2 Kholipah Anggota
3 Hesti Anggota
4 Asih Anggota
5 Yeti Anggota
6 Jumiati Anggota
7 Rustinah Anggota
8 Tri Anggota
9 Ira Anggota
10 Novi Anggota
11 Tuti Anggota
Sumber: Data primer yang diolah, 2025
Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah Teknik analisis Miles dan Huberman. Teknik analisis data Miles dan Huberman adalah salah satu pendekatan dalam penelitian kualitatif yang dikembangkan oleh Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman. Pendekatan ini memiliki 4 (empat) tahapan utama yang harus dilakukan secara berulang dan berkesinambungan sepanjang proses pengumpulan data. Teknik ini bertujuan untuk mengolah dan menganalisis data kualitatif dengan cara yang sistematis dan terstruktur, sehingga diperoleh hasil penelitian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Tahapan teknik analisis penelitian ini yaitu sebagai berikut: (1) data collecting (pengumpulan data), (2) data reducting (reduksi data), 3) data display (penyajian data), dan (4) penarikan kesimpulan dan verifikasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Pondok Pesantren Kanzun Najah Kota Batu
Pondok Pesantren Entrepreneur Kanzun Najah Kotya Batu berdiri pada25 Nopember 2011, barawal hibah dari Wali Kota Batu bapak Edy Rumpok 2 periode (Periode tahun 2007-2017) berupa masjid Kolonel Sugiyono dan pesantren pada tahun 2011 kepada KH. Hazim Sirodjudin, Putra KH. Muhammad Abdul Djalil pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Sidomulyo Kota Batu, kemudian pada tahun 2014 kepemimpinan diserahkan kepada Gus Fathul Yasin (Menantu KH. Muhammad Abdiul Djalil) hingga sekarang (Ifdhal, 2023). Jumlah santri yang mukim di pondok sekitar 25 orang, dimana sebagai besar sedang menempuh pendidikan Sarjana hingga Doktor yang tersebar di kampus-kampus wilayah Malang.
Program yang ada di Pesantren Kanzun Najah berbeda dengan pesantren induknya yaitu Pondok Pesantren Mambaul Ulum Sidomulyo Kota Batu. Di pesantren ini, para santri diberikan bekal ilmu dan pelatihan kewiraushaan sekaligus praktek langsung dengan berbisnis anggrek. Sebagaimana yang disampaikan pengasuh bahwa Pesantren Kanzun Najah mempunyai konsep lebih moderat dan visi utama yaitu, “Faqiih wa’timadu bi nafsih” yang memiliki arti membangun seorang santri berintelektual dan mandiri (Azmy, 2022).
Gus Fathul Yasin mengatakan bahwa kemandirian itu sangat penting sebagai modal dakwah, sehingga sangat penting bagi seorang pendakwah mempunyai pondasi bangunan ekonomi yang tangguh. Begitu juga dengan para santir dan alumninya mempunyai paradigma atau pola pikir (cara pandang) maupun persepsi tentang menjadi entrepreneur telah tertanam kuat dalam perilaku, sikap, dan tindakan, bahwa menjadi wirausahawan adalah keharusan bagi seorang pendakwah (santri) sebagai modal ketika hidup bermasyarakat dalam menjalankan dakwahnya, dengan berbagai latar belakang profesinya sebagai apapun, terlebih sebagai pengajar atau pendidik yang harus didasari keikhlasan dan pengabdian dalam menjalankan profesinya.(Raharto et al., 2024
Model Pemberdayaan
Model pemberdayaan perempuan yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Kanzun Najah Kota Batu menempatkan pesantren sebagai fasilitator sekaligus inisiator dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui usaha batik tulis “Daptulis” dengan motif khas anggrek. Model ini didasarkan pada pemahaman bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai agen pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Pemberdayaan yang dilakukan tidak semata berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan juga sebagai media dakwah Islam. Pengasuh pesantren, Gus Fathul Yasin, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mendekatkan masyarakat dengan pesantren serta mendorong partisipasi dalam kegiatan keagamaan. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga merasakan nilai spiritual dan sosial dari keberadaan pesantren.
Model pemberdayaan ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu sosialisasi dan penyadaran (awareness building), pelatihan (capacity building), dan pendampingan usaha berkelanjutan. Pada tahap awal, pesantren membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi ekonomi batik tulis sekaligus membuka ruang partisipasi. Meskipun awalnya minat masyarakat terbatas, program ini tetap terbuka bagi peserta luar pesantren sebagai bagian dari strategi dakwah. Hasilnya, peserta yang sebelumnya tidak aktif mulai terlibat dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Tahap pelatihan kemudian berfokus pada peningkatan keterampilan membatik secara menyeluruh, mulai dari desain hingga finishing. Peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga mengembangkan spesialisasi sesuai minat, sehingga tercipta pembagian kerja yang efektif. Selain itu, proses evaluasi rutin dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk agar sesuai dengan standar pasar.
Tahap pendampingan menjadi kelanjutan dari proses pelatihan, di mana pesantren tetap memberikan dukungan teknis dan non-teknis, seperti peningkatan keterampilan, akses pemasaran, serta motivasi berkelanjutan. Meskipun anggota telah memiliki kemampuan dasar, mereka masih membutuhkan pendampingan dalam pengelolaan usaha dan pemasaran. Pendampingan ini juga diperkuat melalui pembelajaran dari pengrajin luar daerah, meskipun penerapannya memerlukan penyesuaian dengan kondisi lokal. Dengan demikian, pendampingan berfungsi sebagai jembatan antara peningkatan kapasitas dan upaya mencapai kemandirian ekonomi perempuan.
Secara keseluruhan, model pemberdayaan Pesantren Kanzun Najah memiliki keunggulan pada kedekatan sosial, pendekatan religius, serta dukungan motivasi yang berkelanjutan. Namun, masih terdapat beberapa keterbatasan, seperti intensitas pendampingan yang belum optimal, kemandirian pemasaran yang rendah, keterbatasan modal, serta kurangnya inovasi desain dan sistem evaluasi yang terstruktur. Oleh karena itu, meskipun pesantren telah berperan strategis sebagai agen pemberdayaan, diperlukan penguatan kelembagaan dan strategi pengembangan usaha agar dampak pemberdayaan dapat lebih optimal dan berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan berbasis pesantren merupakan proses yang integratif antara aspek ekonomi, sosial, dan spiritual yang perlu dikelola secara konsisten dan berkelanjutan.
Peran Pemberdayaan Batik Tulis dalam Meningkatkan Ekonomi
Peran pemberdaayaan yang dilakukan Pondok Pesantren Kanzun Najah Kota Batu memiliki dampak yang besar bagi kemandirian ibu-ibu anggota pemberdayaan, meskipun secara finansial belum besar dan stabil penghasilannya, tetapi memiliki potensi besar untuk mensejahteraan ekonomi rumah tangga. Sebagaimana hasil wawancara Ibu Kholipah, bahwa kegiatan membatik awalnya bertujuan sebagai pengisi waktu senggang, terapi, dan hobi, meskipun membutuhkan biaya cukup besar. Kepuasan muncul ketika hasil karya diapresiasi dan dibeli, sehingga memunculkan harapan menjadi sumber pendapatan tetap di masa depan. Namun, saat ini kegiatan masih dalam tahap pengembangan, belum menerima pesanan rutin. Penghasilan yang diperoleh pun masih terbatas dan bergantung pada partisipasi dalam pameran, sehingga belum bersifat stabil. Meskipun belum menghasilkan pendapatan secara rutin, Ibu Kholipah memiliki optimis tentang penghasilan dari batik di masa mendatang yang mempunyai prospek bagus:
Semua anggota pada intinya menghendaki memperoleh pendapatan tetap dan rutin, bukan hanya memperoleh pendapatan ketika ada pameran-pameran saja. Akan tetapi, ibu-ibu tetap semangat dan berjuang untuk tetap konsisten menjalankan dan mengembangkan usaha batik tulis “Daptulis”. Harapan memperoleh penghasilan yang tetap dan rutin diungkapkan juga oleh Ibu Ira, yaitu usaha batik tulis dapat menjadi sumber tambahan penghasilan keluarga, bahkan berkembang menjadi pekerjaan tetap dengan pendapatan rutin. Mereka menginginkan sistem upah berbasis proses, seperti pembayaran setelah tahap pekerjaan selesai tanpa menunggu produk terjual. Saat ini, pendapatan masih bergantung pada penjualan di pameran dan bersifat tidak menentu. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan produksi serta belum stabilnya sistem pemasaran.
Hasil wawancara dari para informan lainnya menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan melalui usaha batik tulis berperan penting dalam meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi peserta. Manfaat yang dirasakan tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga psikologis dan sosial, seperti meningkatnya rasa percaya diri, peran perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi, serta bisa membantu penghasilan suami, dan berpengaruh positif terhadap pola piker perempuan. Temuan ini menegaskan bahwa pemberdayaan berbasis keterampilan produktif efektif dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi perempuan dan keluarganya.
Peluang dan Tantangan Pemberdayaan
Pemberdayaan yang dilakukan Pesantren Kanzun Najah Kota Batu tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan, akan tetapi mempunyai peluang pengembangan yang perlu dilihat di masa mendatang. Hal ini berdasarkan hasil temuan wawancara dengan para informan yang menunjukkan bahwa pemberdayaan yang telah dilakukan mempunyai peluang yang menjadi keunggulan dari berbagai aspek, seperti yang diungkapkan Ibu Kholipah bahwa Usaha batik tulis Daptulis mulai dikenal berkat kekompakan anggota dan partisipasi dalam pameran serta dukungan pemerintah melalui pelatihan dan promosi. Minat masyarakat untuk bergabung cukup tinggi, namun pengelola memilih fokus mengoptimalkan anggota yang ada terlebih dahulu agar kualitas produksi dan pemberdayaan dapat berjalan lebih maksimal dan terarah.
Sementara ibu Esti menyampaikan bahwa peluang batik tulis “Daptulis”terbuka lebar peluang ke depannya, antara lain karena magnet Kota Batu sebagai daerah wisata. Hal tersebut tercermin selama mengikuti pameran-pameran, antusias wisatawan dari luar kota sangat antusias dengan batik “Daptulis” motif anggrek. Usaha batik tulis “Daptulis”yang masih baru juga mendapat apresiasi dari pembeli, pemerintah daerah, dan masyarakat. Partisipasi dalam berbagai pameran meningkatkan popularitas usaha, sehingga muncul permintaan dari lembaga pendidikan untuk pelatihan dan edukasi batik. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan usaha sekaligus peran dalam penyebaran pengetahuan membatik kepada masyarakat luas.
Demikian juga diungkapkan oleh ibu Esti yang sudah sering menjadi pemateri pelatihan batik tulis di sekolah-sekolah, dan anggota lainnya juga memandang sama terkait potensi dan peluang bagus batik tulis ke depan. Bahkan ibu-ibu sudah sepakat merencanakan membuka kelas pelatihan bagi pelajar dan umum, yang akan dilaksanakan di galeri batik tulis “Daptulis” Pesantren Kanzun Najah Kota Batu.
Dalam menjalankan usaha batik Tulis Daptulis, ibu-ibu anggota pemberdayaan mengalami kendala dan tantangan yang dihadapi. Sebagaimana beberapa temuan dari wawancara dengan informan. Diantaranya diungkapkan oleh Ibu Kholipah bahwa usaha batik tulis Daptulis menghadapi persaingan harga dari produsen lain yang lebih murah dan berpengalaman. Namun, produk tetap diminati karena memiliki karakter unik, terutama motif bunga anggrek. Seluruh hasil produksi selalu terjual dalam pameran, menunjukkan potensi besar, meski tetap diperlukan strategi agar mampu bersaing dari sisi kualitas dan harga.
Ibu Kholipah juga menuturkan tantangan lainnya, yaitu mengenai teknik pewarnaan yang membutuhkan referensi pewarnaan yang beragam, serta tantangan pemasaran dan produksi. Dengan demikian masih membutuhkan banyak ikut pelatihan pewarnaan, untuk menambah referensi tekniknpewarnaan dari berbagai daerah. Misalnya dari Solo, Pekalongan, atau Jogjakarta. Alasan demikian karena pernah melakukan pelatihan langsung ke Madura, namun hasil pewarnaan setelah diterapkan di Kota Batu tidak cocok. Dengan pelatihan tersebut, diharapkan mendapatkan teknik pewarnaan yang bagus dan cocok dengan kondisi di Kota Batu. Selain hal tersebut, kemampuan produksi masih terbatas dan akses pemasaran belum dimaksimalkan, khususnya pemasaran online atau digital marketing.
Dari hasil wawancara dan observasi para informan menunjukkan bahwa usaha batik tulis menghadapi tantangan multidimensional, meliputi keterbatasan kemampuan produksi, variasi keterampilan anggota, modal usaha, pemasaran online, konsistensi produksi, kualitas produk, inovasi desain, jaringan kerja sama, dan keberlanjutan usaha. Tantangan-tantangan tersebut saling berkaitan dan berpengaruh terhadap kemampuan usaha batik tulis “Daptulis” Pesantren Kanzun Najah Kota Batu dalam menghasilkan pendapatan yang stabil dan berkelanjutan bagi anggota pemberdayaan.
PEMBAHASAN
Model Pemberdayaan
Tahap 1: Sosialisasi dan Penyadaran (Awareness Building)
Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan, tahap sosialisasi dan penyadaran merupakan fondasi awal dalam model pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Pesantren Kanzun Najah. Pada tahap ini, pesantren berperan sebagai agen perubahan sosial dengan menanamkan kesadaran kritis (critical awareness) kepada perempuan warga sekitar pesantren dan jamaah pengajian mengenai potensi ekonomi yang mereka miliki. Kesadaran tersebut diarahkan pada pemanfaatan keterampilan batik tulis sebagai warisan budaya lokal yang memiliki nilai ekonomi dan religius sekaligus. Temuan ini menunjukkan bahwa pesantren mampu memulai pemberdayaan dari nol, melainkan menggali potensi internal komunitas perempuan yang selama ini belum disadari sebagai sumber penghidupan.
Hasil wawancara juga memperlihatkan bahwa proses penyadaran dilakukan melalui pendekatan religius dan kultural. Pesantren menanamkan nilai-nilai seperti etos kerja, kemandirian, kesabaran, dan pemaknaan kerja sebagai bagian dari ibadah. Pendekatan ini relevan dengan konteks sosial ibu-ibu jamaah yang memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan pesantren (Maksum, et.al 2024). Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari pengamalan nilai keagamaan. Hal ini memperkuat posisi pesantren sebagai institusi yang memiliki modal sosial dan modal kultural yang besar dalam menggerakkan partisipasi masyarakat (Mukhyar, 2025).
Namun demikian, hasil wawancara mengungkap adanya tantangan signifikan pada tahap sosialisasi, khususnya terkait tingkat partisipasi perempuan dalam kegiatan pemberdayaan. Sebagian besar informan menyatakan bahwa mereka pada awalnya tidak memahami bahwa ajakan membatik dari pesantren merupakan bagian dari proses pemberdayaan yang berkelanjutan hingga tahap produksi dan usaha bersama. Banyak ibu-ibu menganggap kegiatan tersebut hanya sebatas pelatihan keterampilan, bukan sebagai pintu masuk menuju aktivitas ekonomi kolektif. Akibatnya, minat untuk mendaftar sebagai peserta pelatihan dan anggota pemberdayaan relatif rendah.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pendekatan sosialisasi telah dilakukan secara persuasif dan religius, aspek komunikasi tujuan jangka panjang pemberdayaan belum sepenuhnya tersampaikan secara jelas kepada calon peserta. Dalam konteks pemberdayaan, partisipasi bukan hanya kehadiran fisik dalam pelatihan, tetapi keterlibatan sadar dalam keseluruhan proses perubahan sosial dan ekonomi (Ulum & Anggraeni, 2020). Ketika perempuan belum memiliki pemahaman utuh tentang arah dan manfaat pemberdayaan, partisipasi yang muncul cenderung bersifat pasif dan temporer.
Lebih lanjut, rendahnya partisipasi pada tahap awal ini menunjukkan bahwa model pemberdayaan yang partisipatif masih memerlukan penguatan pada aspek penyadaran kritis. Penyadaran tidak cukup hanya menekankan pada keterampilan teknis, tetapi juga harus menekankan pada transformasi pola pikir (mindset) perempuan dari sekadar “peserta pelatihan” menjadi “subjek ekonomi”. Tanpa kesadaran ini, pemberdayaan berisiko berhenti pada level peningkatan keterampilan (capacity building) dan tidak berlanjut pada penguatan kemandirian ekonomi.
Dengan demikian, tahap sosialisasi dan penyadaran dalam model pemberdayaan Pesantren Kanzun Najah memiliki kekuatan pada pemanfaatan modal sosial, modal budaya, dan modal religius yang sudah mengakar di komunitas. Namun, hasil penelitian juga menunjukkan perlunya strategi sosialisasi yang lebih intensif, dialogis, dan berkelanjutan agar perempuan benar-benar memahami bahwa pemberdayaan merupakan proses jangka panjang yang menuntut partisipasi aktif sejak tahap awal. Penguatan aspek ini menjadi kunci agar model pemberdayaan tidak bersifat top-down, melainkan tumbuh dari kesadaran dan kebutuhan internal komunitas perempuan itu sendiri (Putri, 2025).
Tahap 2: Pelatihan Batik Tulis (Capacity Building)
Tahap pelatihan batik tulis (capacity building) merupakan inti dalam proses pemberdayaan perempuan di Pesantren Kanzun Najah. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, pesantren berperan sebagai fasilitator utama yang menyelenggarakan pelatihan teknis secara bertahap dan komprehensif, mencakup seluruh rantai produksi batik tulis, mulai dari perancangan motif, penjiplakan desain, pencantingan, pewarnaan, hingga pelorodan dan tahap finalisasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan dilakukan secara menyeluruh, tidak parsial, sehingga peserta memiliki pemahaman utuh terhadap proses produksi. Dengan demikian, pelatihan tidak hanya berfungsi sebagai transfer keterampilan, tetapi juga sebagai upaya membangun fondasi kompetensi produktif perempuan dalam industri kreatif berbasis budaya (Uswa, 2020).
Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada awal program tahun 2023, hampir seluruh anggota belum memiliki pengalaman membatik, sehingga proses pelatihan dimulai dari nol (starting from scratch). Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang, karena perempuan benar-benar diposisikan sebagai subjek pemberdayaan yang mengalami transformasi kapasitas secara langsung. Hanya satu anggota, yaitu Ibu Esti, yang memiliki pengalaman awal melalui teknik eco-print, yang kemudian menjadi modal manusia (human capital) internal bagi kelompok. Dalam praktiknya, pelatihan menggunakan pendekatan learning by doing, di mana peserta langsung terlibat dalam proses membatik secara bertahap, dari teknik sederhana hingga kompleks. Strategi ini efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis sekaligus membangun rasa percaya diri, keberanian, dan motivasi belajar, yang merupakan aspek penting dalam pemberdayaan perempuan (Meilia, 2024).
Namun demikian, keterbatasan kompetensi awal anggota berdampak pada lambatnya peningkatan kualitas dan kuantitas produksi. Pada tahap awal, fokus pendampingan masih terserap pada penguasaan keterampilan dasar, sehingga hasil produksi belum sepenuhnya berorientasi pasar. Hal ini menunjukkan bahwa capacity building bersifat fundamental, jangka panjang, dan tidak secara instan menghasilkan peningkatan pendapatan. Secara keseluruhan, tahap pelatihan batik tulis di Pesantren Kanzun Najah merupakan proses transformasi kapasitas yang gradual dan berkelanjutan, yang tidak hanya membangun keterampilan teknis tetapi juga kesiapan mental, kesabaran, dan etos kerja perempuan. Oleh karena itu, meskipun dampak ekonomi belum optimal pada fase awal, pelatihan ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha dan peningkatan kesejahteraan ekonomi perempuan di masa mendatang.
Tahap 3: Pendampingan Usaha Berkelanjutan
Tahap pendampingan merupakan fase krusial dalam model pemberdayaan perempuan di Pesantren Kanzun Najah, karena menjadi ruang implementasi dari hasil sosialisasi dan pelatihan ke dalam praktik produksi dan pemasaran batik tulis. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan dengan pesantren berperan sebagai pendamping, mediator, sekaligus penghubung jejaring pasar. Peran multipel ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak berhenti pada transfer keterampilan, tetapi juga mencakup penguatan ekosistem usaha agar perempuan dapat bergerak menuju kemandirian ekonomi. Dengan demikian, pendampingan menjadi jembatan antara peningkatan kapasitas dan realisasi usaha yang produktif dan berkelanjutan (Zaenudin et al., 2023).
Dalam aspek produksi, pendampingan difokuskan pada peningkatan kompetensi melalui studi banding ke pengrajin batik serta pelatihan lanjutan terkait desain motif dan teknik pewarnaan. Kegiatan ini terbukti meningkatkan kualitas estetika batik “Daptulis”, meskipun masih berlangsung secara bertahap. Pada aspek pemasaran, pesantren memfasilitasi keterlibatan anggota dalam berbagai event, seperti Shining Batu Week Orchid International, yang memberikan akses pasar lebih luas serta pengalaman langsung dalam strategi penjualan. Namun demikian, terdapat kesenjangan antara target kemandirian dan kesiapan anggota. Sebagian besar anggota masih bergantung pada pendampingan, baik dalam produksi, manajemen usaha, maupun pemasaran, sehingga menunjukkan bahwa proses kemandirian belum sepenuhnya tercapai.
Kondisi tersebut mencerminkan fase assisted empowerment, di mana perempuan masih membutuhkan dukungan institusi dalam proses menuju otonomi ekonomi (Basiroen et al., 2024). Ketergantungan ini bukan merupakan kegagalan, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang bertahap. Secara keseluruhan, model pemberdayaan di Pesantren Kanzun Najah terdiri dari tiga tahap terintegrasi, yaitu sosialisasi (awareness building), pelatihan (capacity building), dan pendampingan berkelanjutan. Ketiga tahap ini membentuk model pemberdayaan yang partisipatif dan kontekstual, serta menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan perempuan memerlukan pendampingan adaptif agar kemandirian ekonomi dapat tercapai secara realistis dan berkelanjutan.
Untuk memudahkan dan menunjukkan model pemberdayaan yang dilakukan oleh Pesantren Kanzun Najah Kota Batu melalui batik tulis kepada perempuan , dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:
Gambar 1. Model Pemberdayaan Perempuan Oleh Pesantren Kanzun Najah
Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi Melalui Program Pemberdayaan Batik Tulis
Pemberdayaan perempuan melalui usaha batik tulis di Pesantren Kanzun Najah terbukti memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi, meskipun dampaknya masih berlangsung secara bertahap. Program ini membuka akses perempuan terhadap sumber daya produktif seperti keterampilan membatik, pengetahuan kewirausahaan, serta peluang usaha yang sebelumnya terbatas. Hasil wawancara menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pada sebagian besar anggota, walaupun belum stabil dan rutin. Pendapatan tersebut umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, dan keperluan darurat. Dengan demikian, batik tulis “Daptulis” berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga dan mengurangi kerentanan finansial (Septrilia & Husin, 2024).
Selain peningkatan pendapatan, pemberdayaan ini juga memberikan dampak positif secara non-material, seperti meningkatnya rasa percaya diri, keterampilan, dan kemandirian perempuan. Perempuan yang sebelumnya tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi kini memiliki peran dalam pengambilan keputusan keuangan rumah tangga, sehingga memperkuat posisi sosial-ekonomi mereka. Namun, upaya ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, seperti produksi yang belum konsisten, keterbatasan modal, serta akses pasar yang masih bergantung pada pesantren. Kondisi tersebut menyebabkan pendapatan belum optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemberdayaan melalui batik tulis perlu didukung dengan penguatan kelembagaan, manajemen usaha, dan strategi pemasaran agar mampu berkembang menjadi sumber penghidupan yang stabil. Secara keseluruhan, pemberdayaan ini merupakan proses berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat kapasitas dan kemandirian perempuan (Pakpahan & Hodriani, 2025).
Tantangan dan Peluang Pemberdayaan Perempuan Melalui Batik Tulis
Pemberdayaan perempuan melalui usaha batik tulis di Pesantren Kanzun Najah menghadapi berbagai tantangan sekaligus peluang yang dapat mendukung keberlanjutan program. Tantangan utama terletak pada keterbatasan kapasitas awal anggota, baik dalam keterampilan membatik maupun pemahaman kewirausahaan. Sebagian besar peserta belum memiliki pengalaman, sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lama dan berdampak pada lambatnya peningkatan kualitas serta kuantitas produksi. Selain itu, partisipasi dan komitmen anggota juga menjadi kendala. Tidak semua anggota mampu menjalankan usaha secara konsisten karena masih terbebani peran domestik, keterbatasan waktu, serta persepsi bahwa kegiatan batik hanya bersifat pelatihan, bukan usaha berkelanjutan. Hal ini berdampak pada ketidakstabilan produksi dan pendapatan (Sebayang & Sembiring, 2020).
Dari sisi kelembagaan, terdapat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap pesantren sebagai fasilitator, terutama dalam pengambilan keputusan produksi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemandirian usaha belum sepenuhnya tercapai dan masih memerlukan pendampingan yang sistematis.
Namun demikian, terdapat peluang besar yang dapat dimanfaatkan. Batik tulis memiliki nilai budaya tinggi dan daya jual yang kuat, terutama jika dikaitkan dengan identitas lokal dan nilai religius pesantren. Dukungan jejaring sosial pesantren serta keterlibatan pemerintah daerah melalui promosi UMKM juga memperkuat potensi ini. Selain itu, peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan studi banding mendorong inovasi anggota. Dengan penguatan manajemen dan pemasaran digital, usaha batik tulis berpotensi menjadi sumber pendapatan yang stabil serta model pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis pesantren yang berkelanjutan (Aswadi, 2025; Asnuryati, 2023).
KESIMPULAN
Dari hasil dan pembahasan penelitian, dari kegiatan pemberdayaan perempuan melalui batik tulis oleh Pesantren Kanzun Najah Kota Batu dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Model pemberdayaan yang bersifat partisipatif, bertahap, dan kontekstual. Model pemberdayaan ini dijalankan melalui tiga tahap utama, yaitu (1) sosialisasi dan penyadaran (awareness building), (2) pelatihan batik tulis (capacity building), dan (3) pendampingan berkelanjutan. Ketiga tahap tersebut saling terintegrasi dalam membangun kesadaran, meningkatkan kapasitas, dan mengarahkan perempuan menuju kemandirian ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya, meskipun prosesnya masih membutuhkan penguatan pada aspek partisipasi dan kesiapan anggota sebagai pelaku usaha.
Kedua, Peran pemberdayaan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi perempuan terlihat melalui terbukanya akses terhadap sumber penghasilan tambahan, peningkatan keterampilan produktif, serta penguatan posisi dan peran perempuan dalam ekonomi rumah tangga. Meskipun peningkatan pendapatan dari usaha batik tulis belum bersifat rutin dan stabil, kontribusinya telah dirasakan dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan meningkatkan rasa percaya diri serta kemandirian ekonomi perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan sosial dan psikologis perempuan.
Ketiga, Peluang dan tantangan, pemberdayaan melalui batik tulis “Daptulis” menghadapi keterbatasan pada aspek kapasitas awal, konsistensi produksi, dan kemandirian kelembagaan, namun sekaligus memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Nilai budaya batik tulis, dukungan jejaring pesantren, serta akses pada kegiatan promosi dan pameran menjadi modal strategis dalam pengembangan usaha. Dengan pendampingan yang berkelanjutan dan penguatan manajemen usaha, pemberdayaan perempuan melalui batik tulis berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan perempuan.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Suhud, M., & Islami, I. (2020). Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pondok Pesantren: Studi Kasus Pesantren Joglo Alit. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran Dan Dakwah Pembangunan, 4(1), 1–26. https://doi.org/10.14421/jpm.2020.041-01.
Asnuryati, A. (2023). Strategi pengembangan ekonomi berkelanjutan di desa: mendorong pemberdayaan komunitas dan kemandirian ekonomi lokal. Inovatif: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial , 3 (2), 2175-2183.
Aswadi, SP (2025). Kemandirian Desa Berbasis Kearifan Lokal. Transformasi Desa: Kemandirian, Inovasi, dan Pembangunan Berkelanjutan , 17 .
Basiroen, VJ, Mahmudah, H., Hidayat, AA, Judijanto, L., Laksono, RD, & Ilma, AFN (2024). Pemberdayaan Perempuan: Perjalanan Perempuan Menuju Pemberdayaan . PT. Sonpedia Penerbitan Indonesia.
BPS. (2024). Indikator Kesejahteraan Rakyat 2023. https://www.bps.go.id/id/publication/2023/11/06/7807339c2dfaed0ca8e0beaa/indikator-kesejahteraan-rakyat-2023.html
Fauziah, S., Aziz, R., & Fitriani, P. D. (2023). Taktik Kampung Batik Telaga dalam Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies, 3(2), 1–15. https://doi.org/10.15575/azzahra.v3i2.19346
Ifdhal, Z. (2023). Santripreneur : pemberdayaan santri melalui kewirausahaan di pondok pesantren Kanzun Najah Kota Batu. 1(2), 95–105. https://rumahjurnal.isimupacitan.ac.id/index.php/jie/article/view/46/54
Kartasasmita. (1996). Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. PT. Pustaka Cidesindo.
Kasiram, M. (2010). Metodologi Penelitian. UIN Maliki Press.
Kembaren, M. M., Irsad, Lubis, M. H., Yudhistira, E., & Gunaika, R. (2024). Empowering Village Women Through Home Industry Batik Prima Jaya to Create Local Economic. ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 9(1), 53–60. https://doi.org/10.32734/abdimastalenta.v9i1.15496
Maksum, MNR, Andhim, M., & Alamsyah, FD (2024, November). Peningkatan Pemahaman Agama dan Peran Sosial dalam Keluarga melalui Pendampingan Keagamaan bagi Jama'ah Pengajian Ibu-ibu di Desa Singopuran, Kartasura, Sukoharjo. Dalam Konferensi Internasional tentang Pendidikan untuk Semua (Vol. 2, No. 2, hal. 251-257).
Meilia, M. S. (2024). Peran Home Industri Dalam Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Guna Menciptakan Ekonomi Kreatif Di Kelurahan Gunung Sulah Kecamatan Way Halim Bandar Lampung (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).
Muhamad. (2008). Metode Penelitian Ekonomi Islam. Rajawali Pers.
Mukhyar, M. (2025). Pengembangan Model Kewirausahaan Modal Sosial di Pesantren Darul Fatah Sendayan Kampar. Prosiding Keislaman dan Sains , 1 (1), 207-220.
Nadia, S. (2022). Pemberdayaan Perempuan Untuk Kesetaraan. Kementerian Keuangan. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-pontianak/baca-artikel/15732/Pemberdayaan-Perempuan-untuk-Kesetaraan.html#:~:text=Perempuan mengalami dampak yang paling, beban ganda dalam rumah tangga.
Narayan, D. (2005). (Measuring empowerment: Cross-disciplinary perspectives. In World Bank.
O.S, P., & A.M.W, P. (1996). Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan, dan Implementasi. CSIS.
Pakpahan, RED, & Hodriani, H. (2025). Integrasi Pemberdayaan Perempuan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Desa Ujung Serdang, Kabupaten Deli Serdang. JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN HUMANIORA , 11 (2), 127-136
Putri, AN (2025). Strategi Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Studi Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA) di Kelurahan Giwangan Kecamatan Umbulharjo (Disertasi Doktor, Universitas Islam Indonesia).
Pratiwi, R., Wardhani, W. N. R., Prabowo, S., Amaniyah, F., & Rohim, F. (2022). Pemberdayaan Santripreneur di Pesantren: Kajian Kepemimpinan Perempuan (Nyai) dalam Meningkatkan Keterlibatan Santriwati dalam Berwirausaha. Jurnal Iqtisaduna, 8(2), 98–110. https://doi.org/10.24252/iqtisaduna.v8i2.31321
Raharto, E., Abidin, M., & Rofiq, A. (2024). Analisis Entrepreneurship Pondok Pesantren Entrepreneur Kanzun Najah Kota Batu (Studi Pendekatan Fenomenologi). Jesya, 7(1), 883–995. https://doi.org/10.36778/jesya.v7i1.1503
Rappaport, J. (1987). Terms of empowerment/exemplars of prevention: Toward a theory for community psychology. American Journal of Community Psychology, 15(2), 121–148.
Sebayang, S., & Sembiring, R. (2020). Optimalisasi usaha mikro produksi tempe terhadap kesejahteraan ekonomi di Desa Sei Mencirim. Jurnal Ekonomikawan , 20 (2), 170-178.
Septrilia, M., & Husin, A. (2024). Analisis ketahanan ekonomi keluarga pelaku pada pernikahan usia dini di Desa Pengaringan Pagaralam Sumatera Selatan. Comm-Edu (Jurnal Pendidikan Masyarakat) , 7 (1), 31-47.
Sugiyono. (2015a). Metode Penelitian Kombinasi ( Mixed Methods). Alfabeta.
Suharto, E. (2014). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Reflika Utama.
Ulum, MC, & Anggaini, NLV (2020). Pemberdayaan masyarakat: teori dan praktik pemberdayaan komunitas . Pers Universitas Brawijaya.
Yulianana, I. (2020). Analysis of Strategic Study of Women ’ s Economic Empowerment Program Indah Yuliana Faculty of Economics UIN Maulana Malik Ibrahim Malang , Indonesia How to Cite : Introduction Poverty alleviation by the central and regional governments does not run smoot. 16(1), 1–16.
Zaenudin, A., Riono, S. B., Sucipto, H., Syaifulloh, M., & Wahana, A. N. (2023). Penguatan Peran Perempuan dalam Menggerakkan Ekonomi Desa melalui Edukasi UMKM Produk Lokal. Era Abdimas: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat Multidisiplin, 1(4), 1-14.
Zohdi, M. A., & Baidawi, M. (2022). Peran Pondok Pesantren Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Kabupaten Lombok Tengah. Al-Infaq: Jurnal Ekonomi Islam, 13 No. 2, 255–270.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Eko Raharto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



